Nama :
Alfa Tiara Akihita
Kelompok : Produktif
Jurusan : Sosiologi
Perubahan
Karna Ibu
Semua orang pasti mempunyai keinginan dan harapan.
Tetapi, tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Sudah menjadi
skenario kehidupan bahwa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita haru
rela berkorban.
Selama ini aku menganggap bahwa apa yang diberikan
oleh Ibu adalah hal yang biasa, ternyata anggapanku selama ini keliru. Aku
seorang gadis dari keluarga yang sangat kaya raya.Aku hanya hidup berdua dengan
Ibuku. Dia wanita karier, kepala titit, sekaligus Ibu untuk aku. Aku memang
seorang anak yang entah mengapa tidak pernah sekalipun bertemu Ayahku. Ibu
bilang, Ayah memang meninggalkan kami sejak aku balita dan entah kenapa aku tak
terlalu tertarik untuk mengungkit masa lalu yang menurutku terlalu menyakitkan.
Tanpa ayah aku bisa hidup bahagia dengan ibu.
“Mba Vira, bangun udah siang! Entar telat.”
“Apa sih mba?”
Iya! Tiap hari hanya pembantu, pembantu, dan pembantu.
“Mama udah berangkat mba?”
“Iya, udah mba hari ini ada lembur juga katanya.”
“Teresahlah mba emang ga
pernah dirumah juga kan? Saya aja bingung, saya ini anak siapa!”
Entah mengapa setelah aku mengatakan itu aku tiba-tiba
merasa menyesal dan ingin sekali meminta maaf kepada ibu. Tapi biarlah, siapa
yang peduli dengan semua itu? Bahkan, mungkin saja ibu tidak memikirkan aku
sama sekali. Apa peduliku? Aku tidak begitu dekat dengan ibuku. Ia jarang
menghabiskan waktu untuk bersamaku. Dia hanya peduli dengan dirinya sendiri
sering aku merasa menyesal dan iri kepada teman-temanku. Hingga suatu ketika,
aku mungkin merasa menyesal pernah berpikir hal itu. Saat aku mengetahui ibu
menderita kanker stadium lanjut dan dia selama ini harus keluar masuk rumah
sakit. Dia sengaja tidak memberitahuku karena dia terlalu khawatir dengan siapa
nanti aku akan hidup tanpa dia. Ibu selama ini membanting tulang karena
memikirkan masa depanku.
Hari ini, tepat semua penyesalanku berujung. Ibu pergi
meninggalkan ku selamanya. Setahun berselang aku merasa benar-benar hidup
sendirian, semua harta peninggalan ibu telah habis aku gunakan. Dan aku
terpaksa bekerja paruh waktu untuk mencukupi kehidupanku. Ternyata apa yang
dikerjakan ibu selama ini adalah sebuah perjuangan yang sangat berat.
“Maaf bu, saya tidak sengaja,” aku
membela diri.
“Memangnya kamu bisa menganti baju
yang sudah rusak ini? Pokoknya aku tidak peduli kamu harus mengantinya.”
“Tapi saya tidak punya uang.”
“Makanya kalau kerja hati-hati dong.
Dasar anak miskin.”
Aku pulang dalam keadaan sedih dan berlinang air mata karena
harga diriku rasanya diinjak-injak. Aku memang miskin tapi aku tidak rela harga
diriku direndahkan. Baru aku menyadari betapa beratnya perjuangan ibu selama
ini. Sampai di rumah aku menyesal kepada ibu
sambil menangis. Mulai saat ini aku berjanji untuk berusaha menghargai orang lain dan tidak akan mengecewakan ibu
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar