Rabu, 20 Agustus 2014



Nama              : Alfa Tiara Akihita
Kelompok       : Produktif
Jurusan           : Sosiologi

Perubahan Karna Ibu

Semua orang pasti mempunyai keinginan dan harapan. Tetapi, tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Sudah menjadi skenario kehidupan bahwa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita haru rela berkorban.
Selama ini aku menganggap bahwa apa yang diberikan oleh Ibu adalah hal yang biasa, ternyata anggapanku selama ini keliru. Aku seorang gadis dari keluarga yang sangat kaya raya.Aku hanya hidup berdua dengan Ibuku. Dia wanita karier, kepala titit, sekaligus Ibu untuk aku. Aku memang seorang anak yang entah mengapa tidak pernah sekalipun bertemu Ayahku. Ibu bilang, Ayah memang meninggalkan kami sejak aku balita dan entah kenapa aku tak terlalu tertarik untuk mengungkit masa lalu yang menurutku terlalu menyakitkan. Tanpa ayah aku bisa hidup bahagia dengan ibu.
“Mba Vira, bangun udah siang! Entar telat.”
“Apa sih mba?”
Iya! Tiap hari hanya pembantu, pembantu, dan pembantu.
“Mama udah berangkat mba?”
“Iya, udah mba hari ini ada lembur juga katanya.”
“Teresahlah mba emang ga pernah dirumah juga kan? Saya aja bingung, saya ini anak siapa!”
Entah mengapa setelah aku mengatakan itu aku tiba-tiba merasa menyesal dan ingin sekali meminta maaf kepada ibu. Tapi biarlah, siapa yang peduli dengan semua itu? Bahkan, mungkin saja ibu tidak memikirkan aku sama sekali. Apa peduliku? Aku tidak begitu dekat dengan ibuku. Ia jarang menghabiskan waktu untuk bersamaku. Dia hanya peduli dengan dirinya sendiri sering aku merasa menyesal dan iri kepada teman-temanku. Hingga suatu ketika, aku mungkin merasa menyesal pernah berpikir hal itu. Saat aku mengetahui ibu menderita kanker stadium lanjut dan dia selama ini harus keluar masuk rumah sakit. Dia sengaja tidak memberitahuku karena dia terlalu khawatir dengan siapa nanti aku akan hidup tanpa dia. Ibu selama ini membanting tulang karena memikirkan masa depanku.
Hari ini, tepat semua penyesalanku berujung. Ibu pergi meninggalkan ku selamanya. Setahun berselang aku merasa benar-benar hidup sendirian, semua harta peninggalan ibu telah habis aku gunakan. Dan aku terpaksa bekerja paruh waktu untuk mencukupi kehidupanku. Ternyata apa yang dikerjakan ibu selama ini adalah sebuah perjuangan yang sangat berat.
“Kamu bisa kerja g sih?!” bentak salah satu langganan karena aku telah merusak baju kesayangannya.
“Maaf bu, saya tidak sengaja,” aku membela diri.
“Memangnya kamu bisa menganti baju yang sudah rusak ini? Pokoknya aku tidak peduli kamu harus mengantinya.”
“Tapi saya tidak punya uang.”
“Makanya kalau kerja hati-hati dong. Dasar anak miskin.”
Aku pulang dalam keadaan sedih dan berlinang air mata karena harga diriku rasanya diinjak-injak. Aku memang miskin tapi aku tidak rela harga diriku direndahkan. Baru aku menyadari betapa beratnya perjuangan ibu selama ini. Sampai di rumah aku menyesal kepada ibu sambil menangis. Mulai saat ini aku berjanji untuk berusaha menghargai orang lain dan tidak akan mengecewakan ibu selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar